[Jong-Seo]You Are My destiny

Judul:You Are My destiny

Author: Queencholee

Cast: Kim jongwoon as yesung

Hwang Seohyun

Rating: PG 13

Length: oneshoot

Genre: Romance

Hwang SeoHyun POV

Aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Semua ini membuatku salah tingkah dan kesal setengah mati. Dan pria bernama Cho Jino memintaku untuk berhenti sebentar. Mahasiswa lainnya mulai berkumpul. Banyak orang yang sedang memasang taruhan untuk Cho Jino, aku tersenyum sinis.

“Hwang Seo Hyun-ssi..” panggil  Cho Jino yang  menyadarkanaku dari  lamunanku Mengenai  uang taruhan. Aku menoleh ke arahnya dengan malas. Menatapnya dengan tajam dan mematikan.

Pria itu menekuk lututnya dan bersujud di hadapanku. Matanya tak lepas dari mataku. Senyum percaya dirinya mengembang, membuatku geli saja. Tangannya dengan kasar menarik tanganku. Ia menggenggam tanganku dengan erat. Aku tetap diam. Hanya memperhatikan.

“Ehem…Her eyes, her eyes
make the stars look like they’re not shining
Her hair, her hair
falls perfectly without her trying
She’s so beautiful
And I tell her everyday (yeahh)

I know, I know
When I compliment her she won’t believe me
And it’s so, it’s so
Sad to think that she don’t see what I see
But everytime she asks me “Do I look okay?”
I say

]
When I see your face
There’s not a thing that I would change
‘Cause you’re amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
‘Cause girl you’re amazing
Just the way you are

Her lips, her lips
I could kiss them all day if she let me
Her laugh, her laugh
she hates but I think it’s so sexy
She’s so beautiful
And I tell her everyday

Oh you know, you know, you know
I’d never ask you to change
If perfects what you’re searching for
Then just stay the same
So don’t even bother asking if you look okay
‘Cause you know I’ll say

When I see your face
There’s not a thing that I would change
‘Cause you’re amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
‘Cause girl you’re amazing
Just the way you are

The way you are
The way you are
Girl you’re amazing
Just the way you are

ia menyanyi dengan lembut. Ku akui suaranya bagus . Skala dari 1-10 kurasa aku berbaik hati memberinya 7. Aku menarik ujung bibirku dengan paksa. Aku sedang sibuk sehabis pulang kuliah, kurasa aku bisa bermain-main sebentar pada pria ini. melihatku tersenyum, ada secercah ekspresi penuh harapan dan sekaligus keyakinan yang sangat. Banyak bisikan-bisikan berisik dari penonton yang memprediksikan kejadian selanjutnya. Ada yang bilang iya, ada yang bilang tidak mungkin. Entah aku berpihak pada siapa.

“would you be my girlfriend Seo Hyun-ssi ?” tanya Cho Jino dengan senyum semanis mungkin  dia pikir itu mampu membuat ku berubah pikiran untuk menerimanya . Aku membalas senyumnya tersenyum semakin lebar dan cukup menikmati peranku. Tapi sayangnya ini semua harus berakhir.

“Sorry, I can’t.” Jawabku pelan lalu kembali memasang tampang polos seolah-olah tak terjadi apapun .Aku melangkahkan kakiku meninggalkan Cho Jino  yang masih tercengang tidak percaya. Aku heran sudah berulang kali aku melakukan penolakan namun mereka semu tak pernah jera .

“Yak, Hyo~ya! Tunggu!” seru seseorang di belakangku.

“Wow! Hebat sekali acting mu! Aku hampir saja berpikir kalau kau akan menerimanya!” kata Shin Hye Ra .

“Mwo? Seharusnya kau tahu itu tidak mungkin terjadi !” aku menimpali.

“What wrong ?? apa yang tidak Cho Jino  miliki? Dia tampan, kaya, pintar, mapan, bersuara indah dan baik. Lalu apanya yang kurang?” tanya Hye Ra  penuh selidik.

Aku mengangkat bahu tidak peduli. “Apakah itu penting? Setahuku kau bukan salah satu dari mata-matanya.”

“Yak! Jadi kau tahu kalau Jino  membayar banyak orang untuk menjadi mata-matanya? Aku pernah ditawarinya, ah bukan! Ia memohon padaku agar aku mau menjadi mata-mata untuknya. Dia akan memberikan apa saja untukku, itu tawaran menggiurkan, kau tahu?” jelas Hye Ra panjang lebar.

“Nah! Kau tahu apa kekurangannya kan? Ia merasa bisa melakukan apapun dengan uang yang ia miliki.” Jawabku tanpa memperdulikan kalimat candaan darinya.

“Tapi ia melakukannya untukmu! Artinya ia mau melakukan apa saja demi kau, Hyo~ya!”

“Bukankah kau bilang ia mau melakukan apapun untukmu?” sindirku.

“Yak, kau ini!” Hye Ra meninju lenganku pelan.

“Jadi, sejak kapan kau Jadi memihaknya ?”

“Siapa yang memihak siapa ? aku hanya berkata apa adanya . Sebaiknya Mulailah membuka hati  untung saja masih ada namja yang tertarik padamu . Jika sudah tidak ada barulah kau merasakanya” ucapnya lalu meninggalkanku.

“YAKK SHIN HYE RA APA KATAMU “

-oo-

Aku menginginkan hidup tenang. Sama dengan gadis lainnya. Hidup yang normal dan ceria. Bukan aku yang meminta dilahirkan dengan wajah seperti ini. kalau boleh memilih, aku mau dilahirkan dengan wajah biasa, wajar dan normal saja. Tapi bukankah kita ditakdirkan untuk selalu bersyukur atas pemberian-Nya?

Aku menengadahkan kepala menatap langit malam. Menatap sosok bulan yang dikelilingi bintang-bintang cantik. Itu cukup menghiburku. Tidak ada manusia yang cukup atas pemberian Yang Maha Kuasa.

Kenapa aku tidak bisa menerima pria manapun lagi setelah…setelah kejadian itu? Apakah aku akan menjadi perawan tua dan mati sendiri? apakah aku tidak bisa melupakan kejadian waktu itu?

Aku kembali terbayang sosok pria yang telah menghantui hidupku. Pria yang sangat kubenci sekaligus membuatku takut. Aku bergidik ngeri membayangkan wajahnya saat kejadian dua tahun yang lalu.

Tiba-tiba udara terasa sangat dingin. Aku mempererat mantelku dan memutuskan untuk pulang saja. Tadi sore aku berencana meminjam buku di perpustakaan karna dosen ku tadi memberikan tugas kisi-kisi untuk ujian akhir semester. Ternyata aku menemukan buku bagus dan malah berlama-lama di sana. Saat aku menyadari sudah pukul tujuh malam, aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Tetapi ternyata dekat perpustakaan ada cafe yang baru didirikan, untuk harga promo, diskon setengah harga. Bukankah itu menggiurkan?

Aku berkunjung ke cafe itu lalu memesan Tiramisu dan coffe latte, makanan favoritku.Ku lihat  pemandangan malam kota seoul  di luar indah sekali, aku pun tanpa sadar melamun dan tidak menyadari kalau sudah pukul sembilan malam. Ini cukup larut untuk pulang sendirian dan berjalan kaki.  Aku merutuki diriku sendiri  yang terbawa suasana sehingga melamun di cafe.

Jalanan semakin sepi dan ada beberapa lampu jalan yang mati. Aku kembali merasa tak menentu . Ini bukan hanya  karna kedinginan lagi, aku sudah mulai merasa tidak enak. Bulu kudukku pun meremang.

Hatiku mencelos saat melihat dua orang namja yang berjalan dari arah yang berlawanan bergerak dengan sempoyongan. Aku bingung harus bagaimana. Aku pun berjongkok di belakang pepohonan dan mengawasi dua namja itu yang semakin mendekat ke arahku . Aku bahkan bisa mendengar suara mereka dengan jelas.

“Bir tadi enak sekali …” ujar namja  berambut cepak. Aku rasa sepertinya dia baru pulang dari wamil .

“Itu bir mahaal. Tidak semua orang bisa membelinyaa..” jelas namja  berambut sebahu  sambil terkekeh freak. aku mencoba mengatur napasku untuk tidak berhenti.

“Tapi…rasanya aku mau buang air kecil, kawanku…” seru si rambut cepak sambil berhenti dan menatap sekeliling seperti menimbang-nimbang.

“Kau buang air di sana sajaaa. Cepatlaah…” si rambut sebahu  mendorong pria berambut cepak itu ke pohon yang sedang ku pakai untuk bersembunyi. Sialnya, pria cepak itu menuruti kata rambut gondrong dan tangannya pun menuju ke arah resleting celananya.

“Yak!!” seruku tanpa sadar. Cepat-cepat aku membekap mulutku.

“Mwo? Waaah, sepertinya ada yang menguntit kita, kawan! Coba kau lihaaat…” tunjuk pria cepak itu padaku. Aku menggigit bibir dengan putus asa. Bagaimana nasibku selanjutnya? Apakah lariku cukup kencang?

Aku melihat pria gondrong itu mendekat, aku pun langsung melesat keluar dari persembunyian dan bergerak cepat untuk melarikan diri. Tapi dengan cepat tanganku ditarik oleh salah satu dari mereka dan membuatku kaget setengah mati.

“Kau mau kemana, sayang? Bersenang-senanglah dulu bersama kami..” tawar namja  sebahu  itu sambil terkekeh freak.

“Lihat, kawan! Gadis ini cantik sekaliiiiii… bawa dia ke tempat terdekat! Aku sudah tidak sabar lagi!” namja cepak itu memandang tubuh ku dengan sangat kurang ajar. Ingin sekali aku menendangnya. Oh ya! tendang!

Aku segera melayangkan tendanganku di selangkangan namja sebahu  itu. Tapi kakiku malah ditangkisnya dan ia nyengir semakin lebar dan menjijikkan.

“Ternyata kau juga tidak sabar untuk bermain, ya manis? Oke, ini kemauanmu!” namja  itu dengan kasar menarik mantel dan topiku. Membuatku tampil berantakan. Namja  cepak mengambil alih tubuhku dan menyudutkanku di batang pohon yang kupakai untuk bersembunyi tadi.

“Di sini cukup gelap.” Kurang ajar! Dia tidak sedang menatap wajahku! Ia malah memandang ke bawah! kurang ajar!

“Kajja..” namja  itu pun melepas jaketnya dan menjilati bibirnya dengan penuh nafsu.

Yesung  POV

Sial sekali! Kenapa aku harus mengantar pulang anak kecil itu menyusahkan saja ? Membuatku terlambat pulang saja. Ini jadwalku bermaindengan ddokoming , ddongkomeng dan kkoming  untuk malam ini. anak kecil itu mempersulitku saja!

Aku mengendarai mobil dengan cepat dan agak ugal-ugalan. Aku ingin cepat sampai rumah. aku pun melewati jalan pintas dan mengerang saat ternyata lampu-lampu di sana banyak yang mati. Masa bodoh! Aku mau pulang!

Aku mendengar tawa freak seseorang. Entah kenapa aku mendapat bad feeling. Dan ternyata feeling ku benar. Ini tidak mengenakkan saat melihat orang yang kau cintai sedang diperlakukan tidak senonoh dengan namja  pinggir jalan. Namja  menatap Seo Hyun dengan jarak sangat dekat itu kupastikan jika ia menyentuh sehelai saja rambut Hyo ri akan mati ditanganku !!

Aku mengambil kain panjang dari dashboard lalu mendatangi dua pria kurang ajar itu. Aku membalutkan kain itu di tangan kananku dan menepuk pundak pria berambut cepak yang berencana untuk menyentuh tubuh Seo Hyun . Namja  itu berbalik lalu aku membuatnya tersungkur dengan sekali Pukulan  di pelipisnya.

“Apa kau tidak diajarkan tata krama saat wamil, ha?” aku menatap namja  itu dengan tajam lalu menyadari ada bayangan hitam di bawahku yang bergerak. Aku pun berbalik sambil melayangkan tinjuku pada pria berambut sebahu  itu yang mendekatiku sambil membawa kayu.

“Kalau berani, gunakan tangan kosongmu, pengecut!” aku menghajar namja  itu dengan sepenuh hati lalu mengalihkan pandangan dari namja  itu saat aku sudah mematahkan giginya.

“Eh, kau…tidak apa-apa?” tanya ku  hati-hati saat melihat ketakutan yang sangat kentara di mata Seo Hyun. Aku menyesali perbuatanku yang terbakar emosi barusan. Pasti Hyo Ri  sangat ketakutan melihatku mengamuk seperti itu .

“Gwenchana?” tanyaku sekali lagi.Seo Hyun  memandangku dengan tatapan yang lemah dan ketakutan.

“Op,,pa!” Seo Hyun  langsung memelukku dengan erat. Tidak ada tanda-tanda dia akan melepaskannya setelah lima detik berlalu. Bahunya terguncang pelan dan aku baru sadar kalau ia terisak. Aku melepaskan pelukannya dengan perlahan lalu menunduk untuk menatap wajahnya dengan jelas.

Aku merasakan ketegangan saat aku menghapus air matanya yang mengucur deras. Tiba-tiba hatiku juga ikut sakit. Ikut menangis. Rasanya sesak dan tenggorokanku tercekat saat menatap gadisku menangis padahal untuk tersenyum pun dia segan.

Aku mendapat feeling, aku akan segera dekat dengan gadis ini.

Dan aku berharap feeling ku kali ini juga benar.

Seo Hyun POV

Selama perjalanan menuju rumahku, aku hanya bisa terdiam. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan norman tidak kencang maupin lambat. Pandanganku  lurus ke depan. Segala kenangan tidak mengenakkan menguar dari otakku. Aku benci mengakuinya, tapi…aku sangat membutuhkan namja  ini untuk berada di sampingku.

“Siapa kau?” tanyaku singkat. Suaraku serak sekali. Aku berdehem pelan untuk menormalkan suaraku.

“Aku? Aku Kim JOngwon kau bisa memanggilku Yesung . Aku satu kampus denganmu,Jika  kau ingin tahu.” Ia menutup mulutnya dengan cepat. mungkin menyadari kalau aku tidak suka diberitahu hal-hal tidak penting seperti itu. Tapi kali ini ada sesuatu yang aneh. Rasanya seperti…apapun yang diucapkannya, semuanya penting bagiku.

“Jadi…sepertinya kau sudah tahu sifatku.” Aku tidak menoleh. Aku menatap lurus ke depan. Berusaha berkonsentrasi pada suaranya yang berat. Entah kenapa, suara namja itu membuatku tenang.

“Kurasa, ya. setahuku kau tidak suka berbicara banyak pada namja  manapun.”

“Kau pikir sekarang aku sedang Banyak berbicara ?” tanyaku tanpa intonasi sama sekali. Datar.

“Molla. Tapi setauku kau tidak pernah berbicara lebih dari satu dua kata.” Ucapnya

“Seberapa jauh kau mengenalku?”

“Tidak banyak. Dan bolehkah aku mengenalmu lebih jauh?” tanya Yesung dengan cepat. Ia menggerutu sendiri karna telah banyak omong.

“Apa yang ingin kau ketahui tentangku?”

Aku melihat tubuh Yesung tersentak kaget tetapi tidak menggerakkan kepalaku untuk menengoknya. “Ehm…sebenarnya aku ingin tahu kenapa kau sangat dingin terutama pada Namja .

” Aku menghela napas panjang. Aku sudah tahu bahwa ini yang akan ditanyakannya. Apakah pria memang gampang ditebak?

“Tapi kalau kau tidak ingin mengatakannya, aku bisa memahaminya. Kita baru lima menit yang lalu kenal.” Sambung Yesung cepat. mungkin ia salah mengartikan hembusan napasku barusan.

“Kejadiannya dua tahun yang lalu. Aku bertunangan dengan seorang pria. Pria yang berhasil membuatku bertekuk lutut. Aku mencintainya dengan sepenuh hati. Dan aku bahagia saat ia melamarku untuk menikah di musim gugur tahun itu. Aku langsung mengiyakannya.” Aku menarik napas panjang. Tidak terbiasa dengan berbicara panjang lebar seperti ini. bahkan aku harus membuka peti kenangan masa lalu yang selalu menghantuiku itu.

“Aku melewati hari-hariku dengan penuh sukacita. Cinta telah membuatku buta. Bahkan tuli. Aku tidak begitu mementingkan kata-kata orang tentang calon suamiku. Aku mencintainya. Dia pun mencintaiku.

“Malam itu. Aku sangat rindu padanya. Ponselnya tidak aktif dan itu membuatku frustasi. Aku memutuskan untuk pergi ke apartemennya dan memberikan kejutan. Aku membayangkan wajah konyolnya melihatku di apartemennya. Aku tidak sabar dan membuka pintunya dengan mudah, karna ia telah memberitahu kunci apartemennya. Dan…kau pasti sudah tahu apa kelanjutannya. Pria itu…bersama…wanita lain. Wanita yang bisa kupastikan lebih tua umurnya daripada calon suamiku. Aku memperhatikan mereka dengan jelas. Aku tidak ingin salah paham karena calon suamiku berprofesi sbagai dokter.. Aku melihatnya bersama wanita di atas ranjang. Itu membuatku lemas. Detik itu juga, aku memutuskan pertunangan kami. Memutuskan kontak, lalu pergi ke luar kota. Ke Seoul ini.”

Yesung menyimak ceritaku dengan serius . Entah ada apa denang perasaanku , tapi aku membiarkan namja  yang baru kukenal ini mendengarkan ceritaku. Membuatnya mendengar masa kelam-kelamku. Dan…anehnya, menceritakannya padanya  tidak membuat hatiku sedih saat aku memikirkannya sendiri.

“Aku tidak tahu harus berkata apa. aku kurang pandai merespons. Mianhae.” Ia tulus meminta maaf. Aku bisa melihat bahwa namj disampingku memang tidak begitu jenius.

“Gwenchana. Kau mau mendengarkan pun aku sudah senang.”

“Apakah…”  Yesung mencoba memulai topik baru. Aku mendengarkan. Tapi ia tidak kunjung melanjutkan kata-katanya. Aku menengok ke arahnya dan melihatnya sedang menatapku ragu.

“Mwo?” tuntutku.

“Apakah setelah ini kau masih mau mengenalku? Masih mau berteman denganku?” tanyanya. Dan aku juga tidak tahu harus menjawab apa, karna aku tidak tahu jawabannya.

Author’s POV

Keesokan harinya seluruh kampus gempar karna sebuah berita yang mencengangkan. Seohyun dan yesung . Mereka sangat dekat. Bahkan yesung bisa membuat Seo Hyun tertawa walaupun masih terkesan dingin dan tidak bersahabat.

Banyak biang gossip mulai menyambung-nyambungkan kejadian di kampus kemarin dengan yesung. Atau mungkin sesuatu yang mungkin terjadi antara Seo Hyun  dan yesung yang menyebabkan mereka bertemu. Tapi sia-sia. Mereka tidak bisa membuat cerita menarik, karna semua ceritanya tidak sesuai dengan karakter Seo Hyun  yang penyendiri, dingin dan anak rumahan. Hobi? Tidak bisa disambungkan. Seo Hyun  suka membaca dan yesung suka berolahraga. Sangat kontras.

Beberapa orang tidak memusingkan masalah itu. Pria dan wanita bersama, deket…itu wajar, bukan? Walaupun yang disebut wanita itu adalah patung es yang tidak bisa tersenyum seperi Hwang Seo Hyun , mereka berusaha tidak memikirkan masalah itu.

Beberapa yang lain, terutama dari kalangan pria, patah hati. Mereka tidak menyangka bahwa Seo Hyun  bisa dekat dengan pria yang tidak pernah mereka prediksikan akan bersama Seo Hyun .

Dan beberapa lagi…ah! bukan beberapa. Hanya ada satu orang pria yang menatap Seo Hyun  dan yesung yang sedang berjalan bersama menuju kantin. Satu pria dengan dendam kesumat di dadanya. Bagaimanapun caranya, ia ingin merusak hubungan mereka.

Seo Hyun  POV

Setelah bertapa, beryoga, makan sayuran, mandi kembang tujuh rupa dan menegak habis Coke 1,5 liter, akhirnya aku menyadari. Sangat menyadari. Kalau aku sedang jatuh cinta.

Aku memang sedang jatuh cinta. Aku merasa seperti…terlahir kembali! Seperti memiliki buku baru dan aku akan menuliskan kisah cintaku dari halaman pertama. Berteriak bahagia, menyanyikan lagu cinta, merasakan rindu yang teramat dan sekaligus merasa berbeda.

Aku memang tidak jatuh cinta lagi setelah kejadian itu. Hatiku beku. Tapi sekarang belenggu hatiku telah musnah! Aku adalah Seo Hyun yang baru dan tidak akan ku sia-siakan kesempatan jatuh cinta ini. bagaimana pun caranya, dia harus jadi yang terakhir di hidupku!

-oo-

BRAK!!

Siapa yang beraninya menggebrak mejaku dengan kasar? Apa dia tidak sopan santun? Aku menengadahkan kepala dan melihat seniorku yang terkenal sebagai model menatapku dengan pandangan tidak suka.

“Ne?” tanya santai. Hari masih pagi. Tidak banyak orang di dalam kelas. Aku sengaja berangkat pagi untuk segera bertemu dengan yesung, bukannya digebrak seperti ini.

“Kau yang bernama Hwang Seo Hyun  itu? Yang dikabarkan dekat dengan tunanganku?” tanyanya dengan gigi bergemeretak. Aku tahu. Sekali membuat kesalahan, matilah aku.

“Ne, aku Hwang Seo Hyun . Tapi…sepertinya eonni salah sangka. Aku tidak dekat dengan tunangan siapapun.” Menatapnya dengan pandangan aku-tidak-tahu-apa-apa. wanita di depanku terlihat tidak terima.

“Ini! lihat! Kau tahu ini apa? ini cincin pertunanganku!” wanita itu mencopot cincin itu dan menunjukkan padaku nama yang tentera di balik cincin itu. “Kau bisa baca??” bentaknya dengan nada merendahkan. Biasanya aku akan menampar orang yang berkata kasar padaku. Tapi kali ini aku hanya bisa diam. Aku tidak bisa berkutik. Nama itu…Kim Jongwoon.

“Kau yakin dia tunanganmu?” tanya dengan nada bergetar.

“Kau kira aku sebodoh itu sampai tidak tahu mana tunanganku?”

“Tapi dia tidak pernah…dia tidak pernah mengatakan apa-apa padaku soal dirimu.” Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa begitu menyakitkan.

“Apa kau tidak menyadari kalau dia telah membohongimu? Kau telah tertipu, Hwang  Seo Hyun ! Jadi biarkan aku hidup bahagia dengan tunanganku! Arasseo?” bentaknya lagi.

Aku tidak menjawab. Tidak pula mengangguk atau menggeleng. Aku hanya menatap lurus ke depan dan menerawang jauh. Wanita itu mendesis jijik lalu berjalan keluar pintu dengan cepat.

“Seo Hyun ~a…” panggil suara lembut sahabat terbaikku Shin Hye Ra. Aku tidak mau terlihat kacau di depannya. Aku mengusap titip air di mataku sebelum mengalir lalu berbalik menatapnya dengan senyum dipaksakan.

“Wae?” tanya Hye Ra dengan tatapan menyelidik.

“Gwenchana. Hanya urusan kecil dengan tunangan yesung Oppa. Ada apa kau kemari?” tanyaku heran. Dia kan jurusan animasi. Kenapa ada di gedung desain art?

“yesung tadi memintaku untuk mengantarkan ini padamu.” Hye Ra  menyodorkan sebuah kertas bergambar Garfield padaku. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku suka Garfield?

“Gomawo, Hye Ra ~ya.” aku tidak memandang kea rah  Shin Hye Ra sama sekali. Aku memperhatikan sesuatu di bawah dengan pandangan kosong. Kenapa pikiranku penuh sesak seperti ini?

“Ehmm…kurasa aku harus kembali ke kelasku!” seru Hye Ra  dengan gugup. Sepertinya ia merasakan aura yang tidak mengenakkan. “Ohya, Seo Hyun ~a!” aku mendongakkan kepala dengan enggan menatapnya. “Fighting!”

-oo­-

Aku melangkah gontai menuju atap kampus. Di gedung Desai art terdapat atap dengan ruang terbuka beserta sebuah bangku taman yang biasa digunakan mahasiswa jurusanDesain art  untuk mendapatkan inspirasi dan pencerahan untuk membuat tugas  yang diberikan oleh dosen mereka.

Aku memandangi sekeliling dengan pikiran kosong. Aneh sekali. Tadi pikiranku sangat sesak sampai-sampai aku tidak tahu harus mulai memikirkan darimana. Tapi sekarang semua pikiran seolah hilang tiba-tiba. Sunyi. Hanya terdengar detak jantungku yang bertalu-talu tidak beraturan.

Setelah aku menyadari kalau aku sedang jatuh cinta, semua pun berubah cepat. ternyata aku jatuh cinta kepada orang yang salah. Orang yang sudah memiliki tunangan. Dan bodohnya aku kenapa bisa aku jatuh cinta pada seseorang dari jangka waktu kurang dari seminggu? Kenapa aku tidak memikirkan alasan terlebih dahulu?

Karna jika berada di dekat pria itu, semua beban pikiran akan menguap. Rasanya tidak ada yang menarik lagi selain memandang wajahnya. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain membuatnya tertawa. Dan aku pun juga tidak begitu yakin apa aku bisa hidup tanpa memandangnya, mendengar suaranya dan bercanda dengannya.

Tapi apakah semua ini nyata? Apakah yesung memang benar pernah dekat denganku? Apa yang terjadi jika bukan yesung yang menyelamatkanku malam itu? Apa yang terjadi kalau tidak ada yang menyelamatkanku malam itu? Dan apa yang terjadi kalau pria cepak itu tidak ingin buang air? Apakah aku akan tetap bertemu dengan yesung? Apakah…apakah itu semua adalah takdir? Dan..apakah aku percaya takdir? Entahlah.

Pertemuan singkatku dengan yesung minggu ini membuatku mengenyahkan semua mimpi buruk di masa laluku. Aku kembali mengenal jatuh cinta.

Dan aku kembali mengenal patah hati.

Aku tersentak kaget memikirkan itu semua. Aku. Kembali. Patah hati.  Apakah memang begini takdirku yang sebenarnya? Jatuh cinta lalu patah hati? Apakah memang tidak ada peluang bagiku?

Aku menatap langit malam yang kelam tanpa bulan maupun bintang. Ugh, bahkan bulan dan bintang sudah muak mendengarkan ceritaku yang sangat ironis ini.

Tuk! Tuk!

Aku mendengar suara sepatu di belakangku. Sepatu itu mencoba berjalan perlahan, tapi aku tetap bisa mendengarnya. Aku berbalik dengan cepat. tapi sialnya ada sesuatu yang membekap mulutku. Aku terus meronta-ronta minta lepas. Baunya tidak enak sekali. Aku tidak kuat lagi. aku tidak bisa bernapas! Aku pun berhenti berusaha setelah bekapan itu semakin dalam. Semuanya pun terlihat gelap dan sunyi.

Yesung  POV

“Maaf,Seo Hyun  belum pulang. Ada keperluan apa, ya nak?” tanya seorang wanita paruh baya yang menyampirkan kain lap di bahunya. Aku menebak kalau dia adalah pembantu di keluarga Choi. Ah sial! Kenapa Seo Hyun  tidak ada di rumah? aku sengaja membuat kejutan untuk mengajaknya makan malam.

“Ani, Ajjuma. Gomawo.” Seruku sambil menganggukkan kepala sopan. Entah kenapa feeling ku kali ini tidak enak. Dadaku seperti sesak. Aku memukul-mukul dadaku dengan frustasi. Ada apa sebenarnya? Apa ini ada hubungannya dengan Seo Hyun ?

Aku mencoba menghubungi ponsel Seo Hyun , tapi tidak aktif. Kemana dia? Untung saja aku punya nomor Shin Hye Ra. Aku menghubunginya dengan tidak sabar. Shin Hye Ra mengangkat telponnya setelah dering kedua.

“Yabbeoseyo?” terdengar suara Shin Hye Ra dengan jelas.

“Ini aku, Yesung . Kau tahu dimana Seo Hyun sekarang?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Tadi aku memintanya membantuku membuat komik di kampus. Kami selesai pukul 6 sore. Apakah dia tidak ada di rumah, Oppa?”

“Mwo? Ani. Kampus? Mungkin dia belum pulang. Aku akan ke sana.” Aku memencet tombol merah dengan cepat lalu menuju ke mobil dengan gusar. Sekarang sudah pukul 7. Apa dia masih ada di sana?

Aku menyetir mobil dengan gila-gilaan. Aku merasakan jantungku berdebar-debar dengan sangat kencang. keringat dingin bercucuran dan aku rasa ini memang ada hubungannya dengan Seo Hyun .

Dari jarak 20 meter, aku bisa melihat sosok itu. Seo Hyun ! Ne! Itu Seo Hyun  dengan tubuh terkulai lemas! Aku bahkan bisa mengenali rambutnya dan bentuk tubuhnya dengan jelas di jarak 100 meter sekalipun. Aku tidak mungkin salah!

Aku melihat seseorang lelaki memasukkan Seo Hyun  ke dalam mobil. Aku tidak percaya kalau pria itu tidak punya maksud buruk! Aku ingin sekali keluar lalu menghajar pria itu entah siapa. tapi aku memilih diam dan mengikuti mobilnya dari belakang. Aku mengingat-ingat plat nomor mobil itu dan berjanji akan memusnahkan mobil itu jika Seo Hyun  tidak kembali dengan selamat.

Aku mengikutinya dari jarak sepuluh meter dan berusaha untuk tidak terlihat mencolok. Tetapi tiba-tiba ada barisan turis yang memotong jalan untuk studi wisata. Turis berbondong-bondong menutupi jalan dan sialnya, aku kehilangan jejak mobil itu!

Saat turis itu selesai menyeberang, ternyata lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah! Demi apa aku ingin mencekik seseorang! Aku memukul setir dengan tidak sabaran. Aku mengacak-acak rambutku frustasi.

Kemana perginya pria itu? Brengsek! Aku mengepalkan tinjuku berusaha menahan emosi. Aku memejamkan mata lalu menarik dan menghembuskan napas perlahan kemudian membuka mata perlahan. Benda pertama yang kulihat adalah kamera lalu lintas! Brilian!

Aku langsung merenggut ponselku dari saku jas. Untung saja ponsel ini tidak remuk di tanganku.

“Hyung! Kau masih bertugas, kan? Tolong aku! Bisakah kau menemukan mobil berplat nomor XXI di sekitar…” aku memberitahu jalan ini lalu menjelaskan apa yang terjadi dengan sesingkat-singkatnya. leeteuk  hyung bersedia untuk membantuku dan mengerahkan bawahannya untuk mengepung hotel yang dimaksudkan tadi. Aku menutup ponsel dengan cepat saat lampu hijau menyala.

Tunggu aku,Seo Hyun !

Seo Hyun  POV

Aku merasa tubuhku sangat lemah tidak bertenaga. Aku membuka kelopak mataku perlahan dan menyadari aku sedang berada di ruang yang terang benderang. Menyadari aku berada di tempat yang asing, aku pun terduduk dengan cepat.

Dimana aku? Aku mencoba mengingat kejadian terakhir kali. Aku berada di kampus. Sedang mengasihani diri di atap gedung Desain art . Tapi…dimana aku sekarang?

Aku memperhatikan sekeliling kamar itu. Sepertinya familier. Ini seperti ruangan-ruangan di hotel.

Tapi…seingatku aku tidak sedang menginap atau berencana menginap di hotel. Aku memegang pelipisku karna mulai pusing.

Terdengar suara shower di kamar mandi. Aku turun dari kasur dan mengecek kamar mandi. Memang ada seseorang yang mandi. Aku berencana untuk menunggu siapapun yang ada di kamar mandi itu keluar dan mungkin bisa menjelaskan kenapa aku berada di hotel sekarang.

“Ternyata kau sudah siuman.” Suara seorang pria dari belakangku. Ternyata pria itu yang tadi mandi. Cho Jino. Entah kenapa perasaanku tidak enak melihat senyumnya yang menunjukkan giginya yang putih.

“Kenapa aku bisa berada di sini?” tanyaku dingin.

“Tadi aku menemukanmu pingsan di kampus. Karna aku tidak tahu rumahmu, ku bawa saja kau ke sini.” Jawabnya kalem dan terlihat tidak peduli. Ia pergi ke sebuah ruangan dan kembali lagi sambil membawa dua cokelat hangat.

“Kau pasti lelah. Minumlah ini untuk membangkitkan tenagamu lagi.” tawarnya padaku. Aku diam saja dan hanya memandangi cangkir yang ditawarkannya. Ia mengangkat bahu lalu menaruhnya di atas meja. Lalu dia kembali menghilang.

Sepertinya Cho Jino  aneh sekali. Tapi, aku tidak begitu mengenalnya dan tidak tahu bagaimana sifatnya. Apakah dia memang secuek ini pada orang? Setahuku dia playboy yang suka gonta-ganti pacar.

Aku menyadari kalau aku kedinginan. Dan tanpa pikir panjang langsung menghirup coklat hangat itu perlahan. Menghangatkan tenggorokanku.

Yesung  POV

Bagaimana aku bisa masuk? Aku tidak tahu Seo Hyun  berada di kamar nomor berapa dan aku tidak punya kunci! Aku hanya orang biasa yang sedang mengikuti instingku. Aku mencoba mencari-cari benda yang mungkin bisa membantu.

Mungkin aku bisa berpura-pura sebagai kakak Seo Hyun  dan mau mengembalikan bendanya yang ditinggalkan. Aku mencoba mencari di kolong-kolong kursi mungkin menemukan anting atau sesuatu yang berguna. Aish! Tidak ada yang bisa diharapkan! Aku mengangkat kepalaku bermaksud untuk kembali duduk tegak, tapi ternyata kepalaku tepat persis di bawah dasbor dan mengakibatkan kepalaku terantuk.

Laci dasbor terbuka, dan tanpa sengaja mataku menatap sebuah benda yang tidak asing. Ini kan lencana polisi? Kenapa ada di dalam mobilku? Aku memeriksa isi laci dan ternyata ada banyak barang kepolisian di sana. Seperti pistol, granat dan double stick. Aku memperhatikan dengan cermat, ternyata ada tulisan SAMPLE di pojok kanan bawah barang-barang itu, termasuk lencana polisi. Ini pasti ulah anak kecil itu. Dia tidak membawa pulang mainannya malah menyimpannya di sini.

Tiba-tiba aku mendapat petunjuk . Aku akan mencoba menyamar menjadi polisi! God bless me and wish me luck, reader!!

Aku turun dari mobil dengan sikap sok gagah. Untung saja aku masih menyimpan jaket kulit di jok mobil. Sekarang aku yakin penampilanku meyakinkan. Aku berjalan memasuki ruang utama dan mendatangi meja resepsionis. Terlihat seorang wanita yang terlihat bodoh tengah duduk sendiri.

“Apakah kau melihat seorang pria dan wanita yang menyewa kamar di sini barusan?” tanyaku dengan suara dibuat se gentle mungkin. Sebenarnya itu tidak perlu karna aku sudah gentle. Ehem.

“Ada, kamar nomor 109.” Jawabnya singkat.

“Maaf, aku dari kepolisian. Bisakah kau berikan kunci cadangannya? Kurasa kau tidak usah mempersulit keadaan karna itu akan membuatmu terkena pelanggaran karna menghambat proses penyelidikan kepolisian.” Jelasku.

Wanita itu memandangku dengan pandangan menilai dan langsung menyerahkan kunci cadangan padaku. Aku tersenyum lalu mengerling padanya sambil mengucapkan terimakasih. Ternyata memang mudah membuat wanita jatuh cinta padaku. Tapi sayangnya susah sekali untuk gadis yang sedang ingin ku selamatkan ini. Hwang  Seo Hyun , bertahanlah!

Aku berlari menuju lift dan mendapati sesuatu yang sial sedang menungguku. Turis! Banyak turis berkerumun memenuhi jalan masuk lift. Rasanya aku ingin berteriak keras. Kenapa dimana-mana isinya turis? Aku mencoba memberitahu leeteuk hyung kalau kamarnya bernomor 109.

 

 Seo hyun POV

Kepalaku terasa sangat berat. Bukannya ingin pingsan atau bagaimana. Aku merasa sangat lemah dan sangat capek. Rasanya seperti aku habis push up 100 kali atau lari sejauh 500 meter! Aku menaruh cangkir yang setengah habis itu di atas meja.

“Kenapa, Seo Hyun ssi?” tanya Jino   dengan pandangan menyelidik yang dibuat-buat. Terlihat kebahagiaan membara di matanya. Ugh! Brengsek!

“Kau merasa lelah? Mungkin aku bisa membantumu membangkitkan semangat!” tawarnya dengan senyum penuh arti.

“Jangan macam-macam denganku, Cho Jino  !” aku menatapnya tajam dan tidak bertenaga.

“Oh ayolah! Mungkin kau butuh istirahat. Aku akan…menemani!” serunya tanpa rasa malu. Aku menatapnya tajam. Ia mendekatiku perlahan.

“Jangan dekati aku! Mundur kau!” aku menudingkan telunjukku ke arahnya. Ia memandangi telunjukku  dan menurunkan tanganku tanpa menghilangkan senyum brengseknya. Ia mendekatiku dengan cepat lalu menyentuh pipiku. Memonyongkan bibirku dengan paksa. Dan menciumku.

Ciuman itu adalah ciuman termenjijikkan seumur hidupku! Bibirnya melumat bibirku dengan kasar dan penuh gairah. Ia memperdalam ciumannya sambil menahan tanganku tetap berada di balik punggung. Sial! Aku tidak berdaya karna ia menyudutkanku!

Ia memberikan jeda untuk bernapas. Ku kira dia akan melanjutkan ciuman menjijikkan itu, tapi ternyata tidak. Dia menatap mataku tajam.

“Aku yang membekap mulutmu. Aku yang menaruh obat di minumanmu. Aku yang menyuruh wanita itu untuk membuat jalan pikiranmu kacau. Ini semua rencanaku, sayang! Dan ternyata kau sangat mudah untuk dijadikan korban! Tahu begini aku tidak usah repot-repot mempermalukan diriku di depan orang banyak!” jelasnya panjang lebar. Aku menatapnya ketakutan.

Tanpa kusadari, dia melepaskan pegangan tangannya. Dia mundur selangkah dan menerawang.

“Apa yang pria itu punya yang aku tidak punya, ha? Aku memiliki segalanya! Banyak wanita bertekuk lutut padaku! Lalu kau menghancurkan harga diriku! Kau membuat hatiku sakit saat melihatmu bersama dengan pria itu! Seharusnya ku bunuh saja pria itu!” aku tersentak kaget mendengar pengakuannya. Yesung  …tidak!

“Tetapi aku mulai berpikir lagi. untuk apa aku membunuhnya? Apakah dengan membunuhnya, kau akan mencintaiku? Tidak. Mungkin kau akan mendapatkan pria lain lalu kembali membuatku sakit hati.” Ia menerawang dengan pandangan nanar. “Lalu aku mendapatkan sebuah ide brilian yang menyenangkan! Bagaimana kalau kau ku culik dan aku memperkosamu saat pingsan? Itu akan membuatmu menjadi milikku selamanya!!” sambungnya dengan senyum brengsek yang mengembang.

“Tapi tidak. Aku kasihan padamu.” Ia menatapku dengan pandangan penuh rahasia. “Gadis sepertimu pasti tidak mau kan kalau diperkosa saat pingsan? Lalu aku memutuskan untuk tidak memperkosamu saat pingsan. Melainkan…” ia memandangku dengan senyum mengerikan. Aku mencoba mundur walau aku tahu kalau aku sudah mentok.

Jino  mendorongku ke arah kasur. Pandangannya tertuju padaku. Sepertinya ia tidak berkedip.

“Kau membuatku tegang saja,  Seo Hyun!” Jino   membuka kaosnya dan menunjukkan abs dan kulit coklatnya. Aku mundur ketakutan di atas kasur.

“Tenang saja, bukan hanya aku yang akan telanjang! Kau juga harus!” serunya sambil tertawa jahat dan freak. aku menelan ludah dan berusaha berlari menuju suatu tempat yang mungkin bisa menyelamatkanku!

Tapi sebuah tangan dengan sengaja menarik kemejaku dan membiarkannya terkoyak. Jino   menarik tanganku dan mendorongku jatuh ke atas kasur lagi.

“Mau kabur, eh? Sekali kau kabur, sekali juga aku merobek bajumu. Jadi tinggal pilih saja. Kau mau mencoba kabur lagi atau diam saja di atas kasur menikmati rasanya bercinta denganku? Semuanya sama saja bagiku. Aku tetap akan mengoyak bajumu!” serunya dengan lantang. Aku terbelalak ngeri. Jino   seperti psikopat yang haus keperawanan wanita.

Aku harus tetap berusaha kabur! Toh akhirnya sama saja. Tapi yang penting aku sudah berusaha. Aku mencoba terlihat rileks dan pasrah, tunggu sampai Jino   lengah, aku akan langsung menuju jendela dan melompat keluar.

Jino   seperti tersandung sesuatu. Dia mengumpat pelan dan itu adalah kesempatanku! Aku langsung melesat dan berlari ke arah mandi (kamar mandi biasanya memiliki ventialasi atau jendela). tapi belum sempat aku sampai ke sana, tangan Jino   menarik sisi kemeja ku yang satunya, tetapi tidak berniat merobeknya. Ia menarikku dan mendorongku kembali di atas kasur.

“Mau main-main denganku, ya? tapi sepertinya aku sudah tidak sabar! Bersiap-siaplah  Seo Hyun-ssi!” Jino   menidurkanku dengan paksa. Ia menindihku dan merobek bajuku seperti gorilla. Aku meronta-ronta dan berteriak minta tolong. Tapi hanya sebuah bisikan halus yang keluar dari mulutku. Tenagaku menguap semuanya! Aish, brengsek sekali!

Jino   memandang ke arah tubuhku. Ia berhasil merobek habis kemejaku kemudian merobek kausku. Aku sekarang hanya memakai tank top putih. Aku menggeliat dengan tidak tenang.

Jino   berteriak kesenangan karna berhasil merobek tank top ku dan sekarang pandangannya tertuju pada bra hitam yang kukenakan. Lidahnya dengan liar menjilati bibir bagian atasnya. Aku menelan ludah dan mulai terisak. Tuhan, bagaimanapun caranya, tolonglah aku!

Jino   meraba pipiku, leherku dan terus turun ke bawah. ia meraba dadaku lalu mencoba menanggalkan pengait bra di belakang punggungku. Aku meronta ingin bebas dan melakukan apapun agar tangannya tidak menuju ke pengait di belakang punggungku.

Lalu tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah Yesung  bersama polisi-polisi di belakangnya “ Seo Hyun!!” serunya.

Aku mendengar Ji Hwa mengumpat pelan lalu kembali memandangku. Ia pun mencium bibirku dengan kasar. Masih dalam keadaan menindihku. Aku meronta tidak berdaya tiba-tiba tubuh Jino  tidak lagi berada di atasku. Aku segera mencari selimut dan menutupi bagian tubuhku yang setengah telanjang.

Ternyata Yesung  telah menarik Jino   memukulnya hingga Jino   terkapar di lantai. Jino   terlihat tidak terima. Ia bangkit lalu mencoba menghajar  Yesung. Ia mengarahkan tinjunya ke perut  Yesung, tetapi  Yesung dengan sigap menangkisnya dan memukul pipi Jino   tanpa ampun.

“YAK!! TUNGGU!!” seru Jino   sambil mengacungkan tangannya untuk membuat Yesung  berhenti. Jino   mengusap darah yang keluar dari hidungnya. Dan meludahkan darah di lantai. Mau apa dia?

“Kau boleh saja memukulku! Tapi jangan di wajahku, dong! Aku masih ingin tetap tampil tampan dan imut saat di penjara nanti!” protes Jino   sambil memegangi pipinya yang membiru.

Aku, Yesung  dan para polisi memasang tampang please-deh-yaaaaa.

“Banyak omong kau!” Yesung  menarik kerah Jino   dan bermaksud menghajarnya lagi. tapi ditahan oleh seorang pria bertubuh besar yang sepertinya berpangkat tinggi.

“Sudahlah, Yesung  ! Lebih baik kita bawa saja dia ke pengadilan! Langsung dijebloskan tanpa ba-bi-bu!” usul pria itu. Yesung  menyingkir dengan enggan lalu membiarkan anak buah pria-berbadan-besar itu memborgol tangan Jino.

Yesung  dan pria itu berbincang sebentar lalu segera keluar dengan membawa Jino   pergi.

“Yak! Jangan mengikat tanganku terlalu kencang! membuat tanganku memar dan itu tidak baik untuk kesehatan! Lagipula aku harus memasangkan cincin pernikahan pada aww!!” suara Jino   terdengar di luar kamar.

“Sudahlah jangan cerewet!” ku tebak itu suara pria-berbadan-besar. Terdengar suara langkah mereka menjauh dan hilang. Sekarang tergantikan suara debar jantungku yang berisik karna melihat Yesung  lagi da karna bahagia karna mengetahui yesung  telah menyelamatkan keperawananku dua kali.

Tiba-tiba Yesung  mencopot jaket kulitnya dan melemparkan ke arahku tanpa memandangku sama sekali.

“Pakailah.” Serunya singkat. Aku menuruti perintahnya. Dengan cepat ku pakai jaket itu. Aroma khas tubuhnya menyeruak dari jaket itu.

“Terimakasih.” Kataku kalem. Aku menunduk karna malu dan merasa merepotkan.

“Seharusnya kau menjaga dirimu dan tidak membiarkanmu sendirian di malam hari!” serunya di sela-sela gertakan giginya.

“Maafkan aku.” Pintaku tulus. Tiba-tiba Yesung  memelukku dengan erat.

“Tahukah kau apa yang terjadi kalau aku terlambat satu detik saja? Dia akan menghancurkan masa depanmu!” ujar Yesung  tanpa menyembunyikan nada khawatir di setiap kata nya.

“Maafkan aku.” Ujarku lagi. aku tidak menyangka ternyata menyelamatkanku hanya untuk membiarkanku memiliki masa depan yang indah.

Entah berapa lama kamu berpelukan. Rasanya aku tidak mau melepaskan diri dari pelukannya. Tapi tiba-tiba Yesung melepaskan pelukannya. Menaruh tangannya di atas kedua bahuku dan memandangku lekat.

“Kau tahu kenapa aku peduli padamu? Karna aku mencintaimu. Saranghae.”

Author’s POV

“ Seo Hyun, kau dicari kekasihmu!” panggil Kang Ahjumma.  Seo Hyun terkejut dengan panggilan itu. Kang Eun-Ri adalah pembantu di rumahnya. Ia telah bekerja sejak  Seo Hyun masih kecil.  Seo Hyun segera turun dan menemui  Yesung duduk dengan gagah di sofa ruang tamu.  Seo Hyun menghapalkan  Yesung duduk di sofa sebelah mana. Ia berencana menduduki sofa tersebut saat  Yesung pulang nanti.

“Hi.” Sapa  Yesung dengan senyum mengembang. Senyum  Seo Hyun juga tidak kalah mengembang. Ia mendekati  Yesung yang berdiri. “Untukmu.” Yesung  memberikan  Seo Hyun setangkai mawar putih.

“Putih. Melambangkan cintaku padamu suci tanpa syarat.” Jelas  Yesung saat melihat  Seo Hyun  bingung dengan warna mawar yang biasanya diberikan oleh kekasih lain adalah mawar merah, bukannya putih.

Mendengar itu,  Seo Hyun  memeluk  Yesung dan berkata, “Gomawo, Oppa!”

“ Seo Hyun~a, setelah kejadian dua hari yang lalu, aku mulai berpikir,”  Yesung memulai topik baru.  Seo Hyun hanya mendengarkan tanpa berkomentar. Ia takut suaranya akan merusak momen saat ia mendengarkan desah napas dan detak jantung  Yesung di telinganya.

“Sepertinya tidak baik membuatmu melakukan apapun sendirian. Seharusnya ada yang mendampingimu saat kau bepergian atau sedang ingin di rumah.”  Seo Hyun mencoba menebak topik yang ingin dibicarakan. Tapi ia menyerah. Ia tidak mengerti.

“Harus ada yang menjagamu. Dan yang boleh menjagamu hanya aku. Jadi, kalau aku menjagamu dari dekat, itu akan benar-benar membuatmu aman, bukan? Aku juga berpikir. Aku mencintaimu dan kurasa kau pun juga. Lalu apa yang dipermasalahkan?”

Tiba-tiba  Yesung melepaskan pelukannya dan berlutut di depan  Seo Hyun. Tangannya mengeluarkan kotak merah berisi cincin berlian yang sederhana.

“ Seo Hyun~a, menikahlah denganku”

THE END

 

2 thoughts on “[Jong-Seo]You Are My destiny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s